News Update :

Pembangunan Waduk Karian Terganjal Dana Pusat

Thursday, November 29, 2007

Serang – M Shaleh, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Provinsi Banten mengatakan, rencana pembebasan lahan untuk pembangunan Waduk Karian belum bisa diwujudkan. Soalnya belum ada kesepakatan dengan pemerintah pusat.
“Permasalahan proyek pembangunan Waduk Karian di Kabupaten Lebak adalah tidak ada modal. Sampai saat ini, kami belum bisa bertindak. Karena pemerintah pusat belum melakukan pembahasan dengan pemerintah daerah,” kata Shaleh, Rabu (28/11).
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten berharap terjadi kesepakatan dalam hal menanggung beban pembebasan lahan untuk Waduk Karian dengan pemerintah pusat. Harapannya, pemerintah pusat dapat menanggung 75 persen biaya pembebasan lahan. Paling tidak, biaya yang dikeluarkan Pemprov Banten lebih kecil dibandingkan biaya yang dikeluarkan pemerintah pusat. Padahal rencananya, pembebasan lahan untuk Waduk Karian ini selesai bulan Oktober 2007 lalu.
Lokasi Waduk Karian rencananya berada di Kabupaten Lebak seluas 2.225 hektare. Luas ini meliputi 11 desa di 4 kecamatan. Waduk ini diharapkan sudah selesai tahun 2011 dengan perkiraan dana Rp2,9 triliun. Sedangkan pembebasan lahannya diperkirakan menelan biaya Rp80,34 miliar. Sedangkan untuk pembuatan saluran air dari Waduk Karian ke Serang, Cilegon, Tangerang dan DKI Jakarta akan diserahkan ke investor.
Sementara Karimil Fatah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) mengatakan, Pemprov Banten merencanakan anggaran pembebasan lahan Waduk Karian sebesar Rp10 miliar. “Untuk pusat juga katanya, telah menganggarkan sebanyak Rp10 miliar,” ujarnya.
Harapan Karimil, pemerintah pusat di tahun 2009 menganggarkan lokasi lebih besar. “Agar pelaksanaan pembangunan sesuai dengan jadwal yang direncanakan, maka kami berharap pusat memberikan anggaran lebih besar,” kata dia.
Menurutnya, tertundanya pembangunan ini, menurut Karimil tidak menjadi masalah. Soalnya memang tidak ada dana. “Kalau tidak ada dananya, apa yang dapat kita lakukan,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Ruswan Effendi, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lebak mengatakan, dana pembangunan Waduk Karian Tahap I dialokasikan Rp16 miliar yang berasal dari APBN, APBD Banten dan APBD Lebak. “Khusus APBD Lebak, pada tahun ini (2007-red), kami hanya sanggup menyediakan Rp2 miliar,” katanya.
Selain itu, Ruswan Effendi yang juga Ketua Panitia 9 menghimbau pemilik lahan di bakal lokasi pembangunan Waduk Karian untuk berhati-hati terhadap para spekulan pembebasan tanah.
Himbauan ini dikeluarkan terkait adanya isu percepatan pembebasan lahan Waduk Karian yang direncanakan pada pertengahan bulan Desember 2007. Padahal, Panitia 9 belum bisa menaksir dan menetapkan harga lahan Waduk Karian itu. Bahkan tim penaksir harga tanah yang terdiri dari berbagai unsur itu belum terbentuk.
“Masyarakat dihimbau jangan sampai tergoda oleh rayuan manis para spekulan, karena yang rugi nantinya masyarakat sendiri. Rencana pembebasan lahan di bulan Desember itu, belum ada kepastian,” kata Ruswan.
Hal senada diungkapkan Widjayakusumah, Asisten Daerah (ASDA) I Pemkab Lebak. “Pokoknya kalau masyarakat memang akan menjual tanah ke spekulan, karena terbentur kebutuhan, jangan menjual murah. Perkiraan yang sempat dilontarkan Mulyadi Jayabaya, Bupati Lebak, harga tanah di Karian sekitar Rp9 ribu hingga Rp10 ribu,” ujarnya.
Himbauan ini terutama ditujukan kepada pemilik lahan di Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak yang merupakan lahan awal pembebasan untuk pembangunan Waduk Karian.
Isu pembebasan lahan Waduk Karian dipertengahan bulan Desember 2007, dipicu karena telah dianggarkannya pembebasan lahan itu di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lebak tahun 2007. Para spekulan tanah berharap anggaran yang sudah tersedia itu tidak dikembalikan ke kas daerah Lebak sebagai selisih pagu anggaran (silpa) APBD Lebak 2007

Rencana Waduk Karian
Amir Hamzah, Kepala Bappeda Kabupaten Lebak menyatakan, pembangunan Waduk Karian yang mengambil lokasi di 4 kecamatan itu di antaranya, Kecamatan Sajira, Maja, Cimarga, Rangkasbitung. Waduk tersebut dibangun di atas lahan 2.225 Hektare. Seluas 1.740 hektare untuk tubuh bendungan dan sisanya untuk membangun sarana pendukung lainnya, seperti pintu air dan bendungan. “Mereka akan direlokasi kedesa yang tidak jauh dari lokasi semla,” ujar Amir.
Sedangkan untuk pembangunan tubuh bendungan yang luasnya 1.740 hektare itu, akan membebaskan sebanyak 2.814 bangunan di 11 desa. Untuk Desa Sindang Mulya, Kecamatan Maja sebanyak 34 bangunan dan luas lahan 111 hektare. Untuk Desa Pasir Tanjung Kecamatan Rangkasbitung sebanyak 4 bangunan dengan luas lahan 104 hektare, Desa Tambak Kecamatan Cimarga sebanyak 472 Bangunan dengan luas lahan 314,4 hektare.
Sementara di Kecamatan Sajira sebanyak 8 desa yang akan dibebaskan di antaranya Desa Mekarsari sebanyak 68 bangunan dan dengan luas lahan 119,7 hektare, Desa Pajagan 308 bangunan dengan luas lahan 236,4 hektare, Desa Sukajaya 495 bangunan dan luas lahan 320,6 hektare, Desa Sajira 73 bangunan dan luas lahan 10 hektare.
Desa Sajira Mekar 20 bangunan dan luas lahan 3,7 hektare, Desa Sukarame 408 bangunan dan luas lahan 96,5 hektare, Desa Sindang Sari 104 bangunan, luas lahan 406,6 hektare dan Desa Calungbungur 828 bangunan, luas lahan 17,1 hektare. “Demi kelangsungan masyarakat yang direlokasi, kami harus menyiapkan lahan pertanian kembali bagi para petani,” ujar dia.
Air dari waduk karian rencananya akan mengalirkan air bersih ke Serpong, Tangerang melalui jalan air (water way) sepanjang 35 kilometer yang dipasang di atas lahan seluas 55 hektare. “Bulan depan kemungkinan pemerintah pusat dan investor akan melihat ke lokasi yang akan dijadikan waduk,” tukasnya.
Amir menjelaskan, tujuan pembangunan waduk karian untuk Kabupaten Lebak, yaitu untuk pencegahan banjir, revitalisasi irigasi teknis dan sebagai suplai air baku untuk masyarakat Kabupaten Lebak. Bahkan, kata Amir, pembangunan waduk ini akan sangat menguntungkan bagi warga Lebak.
Sebab, selain mendapatkan keuntungan dari hasil pajak atas suplai air, juga di sekitar lokasi waduk akan dijadikan kawasan wisata ekologi seperti Waduk jatiluhur, Cirata, Bandung. “Saya berharap masyarakat tidak menjual tanahnya kepada calo tanah,” pintanya. (gb)

Oleh : Mdika
http://www.bantenlink.com/BU.html
Share this Article on :

0 comments :

Post a Comment

 
© Copyright Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Lebak 2007 -2013 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by PKS Lebak .